Rabu, 29 Juni 2011

Rakyat Miskin, Pejabat Kaya Raya

        SULIT untuk mengatakan kalau rakyat Indonesia berada dalam posisi yang menggembirakan, yang terjadi di lapangan Rakyat Miskin, Pejabat Kaya Raya. Betapa malu sebenarnya bila kenyataannya demikian. Para politisi atau pejabat negara lebih sibuk mengurus kepentingan dirinya sendiri, keluarga dan golongan daripada  kepentingan rakyat. Itu kenyataan yang tidak bisa dibantah.
       Dalam salah satu hadisnya, Rasulullah bersabda :"Akan datang suatu masa, dimana umatku mencintai 5 perkara dan melupakan 5 perkara. Kelima itu adalah :(1) Mereka mencintai dunia dan melupakan akherat (2) Mereka mencintai kehidupan dan melupakan kematian (3) Mereka mencintai istana mewah tetapi melupakan kuburan (4) Mereka mencintai harta benda tetapi melupakan hisab/perhitungan dan (5) Mereka mencintai ciptaan Allah tetapi melupakan Pencipta."
       Sadar atau tidak apa yang disampaikan oleh Rasulullah sudah menjadi kenyataan di tengah kehidupan bangsa Indonesia yang mayoritas sebagai pemeluk agama Islam. Dengan demikian, sudah tidak lagi bernilai dan berharga tinggi wahyu Allah dalam al_Quran, sebab sebagian besar umat Islam te;ah sibuk dengan urusan dunia yang gemerlap.
      Pejabat yang rakus terhadap dunia, maka dia akan menjadi seorang makhluk yang hatinya keras dan buta. Apa yang dilakukan orientasinya bukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT tetapi lebih kearah materi semata. Jadi yang dikejar adalah kesenangan dunia, sementara akherat, urusan belakangan dan dikesampingkan.
       Kematian menjadi sesuatu yang sangat mengerikan dan mereka berlari dari sakaratul maut, sebab harta dan jebatan sudah ditangan, maka keinginan yang kuat adalah ingin hidup 1000 tahun lagi. Padahal usia yang panjang akan semakin  memperpanjang dosa dan ancamannya jelas berada dalam api neraka jahanam. Tidak bisa lari dari kematian, siapapun juga.   
      Oleh karena itu, seyogyanya menyadari akan kematian yang menjadi pemutus keindahan dan kenikmatan hidup di dunia. Hanya orang  kafir dan munafik saja yang takiut dengan kematian. orang yang beriman, insya Allah, beharap kematian aalah yang terbaik dan mendapat derajat tinggi dan mulia.***

Senin, 27 Juni 2011

Harga Diri Lebih Mahal dari Apapaun Juha!

       HARGA diri lebih mahal dari kekayaan maupun jabatan apapun di dunia ini. Kejatuhan harga diri tidak akan bisa dibeli dengan nilai uang berapa  milyar pun. Masyarakat pun akan mencemooh dan melecehkan keberadaan seseorang, manakala harga dirinya sudah jatuh. Jadi ternyata yang paling berharga di dunia ini adalah HARGA DIRI. bila harga dirinya mulia dengan perbuatan yang bisa menolong atau melepaskan beban orang lain, serta segenap waktu diperjuangkan untuk kepentingan oang lain, betapa harga dirinya akan terangkat agung. Tetapi sebaliknya kalau perilakunya buruk, serakah terhadap kekayaan dan jabatan serta banyak melakukan korupsi, maka siapapun tidak akan berharga sama sekali. Rakyat tidak akan pernah mendoakan, tetapi sebaliknya merasa bersyukur  karena seorang manusia jahat telah tidak ada!
     Jabatan presiden bukanlah suatu kebanggaan atau alat untuk memperkaya diri dan melanggengkan kekuasaan. Sehebat apapun seseorang di belahan muka bumi ini, maka dia tidak akan bisa menolak alan takdir yang harus menimpa dirinya. Hina dinanya seorang manusia adalah manakala mereka bertarung dalam hidup ini bukan dengan kebaikan, tetapi  kejahatan dan persekongkolan. Sadara atau tidak, jabatan yang tinggi seringkali melupakan tujuan akhir hidup di dunia.
    Sebagai seorang muslim yang beriman terhadap Allah SWT, maka dia wajib memegang teguh terhadap al-Quran dan Sunnah Rasul. Jabatan nomor satu di Indonesia, maka tugas pertama ialah niat berjuang untuk menegakkan kebenaran berdasarkan wahyu Allah, itulah sebaik-baiknya mahluk di bumi ini. Kalau pun dia mati dalam meneghakkan kebenaran wahyu Allah, maka kematian itu dipandang sebagai syahid di jalan Alla, itulah kematian yang mulia.
    Selama al-Quran dan Sunnah Rasul. tidak tegak di bumi Indonesia, selama itu pula akan terjadi berbagai kekacauan, kejahatan dan persekongkolan untuk memperkaya diri, keluarga dan organisiasi. Namun bila berpegang teguh kepada ketaatan kepada Allah, maka derajatnya sangat mulia, meskipun akan ada musuh dari orang muslim yang bermuka dua atau orang yang kafir terhadap al-Quran. Hidup adalah pilihan, mau memilih yang mana, itu tergantung kepada motivasi hidup di dunia.
    Hidup tanpa berpegang teguh kepada dua pilihan : Hidup Mulia atau Mati Syahid, maka tidak ada maknanya diberi umur, jabatan dan harta benda pun, sebab akan sia-sia semuanya. Harga diri akan diangkat derajatnya manakala ia mempunyai dua pilihan dalahidup ini. Allah hanya akan mengangkat kepada mereka yang berpegang  teguh kepada ayat-ayatnya.
    Semoga ini menjadi renungan khusus buat saya sendiri dan menjadi cahaya yang bersinar bagi seorang presiden. Ingat, jabatan tidak berarti apa-apa, manakala nyawa sudah di kerongkongan. Yang akan menolong hanyalah keimanan dan amal saleh yang dilakukan di alam dunya ini!

Sabtu, 25 Juni 2011

Mengapa Jadi Begini?

           Bapak Presiden yang terhormat!
           Kalau surat ini dibaca oleh bapak, saya bersyukur, tetapi kalau pun tidak karena kesibukan sehari-hari sebagai orang nomor satu di Indonesia, tidak mengapa! Surat ini hanyalah sebuah catatan-catatan saya tentang keadaan bangsa dan negara yang semakin mengalami kemunduran, terutama  oknum akhlak para pejabat negara yang semakin serakah, jahat dan "membunuh" banyak rakyat Indonesia. 
          Saya ingin menyoroti masalah yang semakin runtuh akhlak para pejabat dan politisi negeri ini. Tentu sebagai presiden banyak laporan yang masuk tentang keadaan para pemimpin negeri ini yang sudah bobrok, namun semua itu adalah cermin betapa lemahnya keadaan SDM yang ada di Indonesia. Sebagai orang nomor satu, bapak bertanggungjawab terhadap keadaan aparat pemerintah, karena semua itu bapaklah yang mengendalikan.
         Hanya untuk mengingatkan saja, bahwa kampanye bapak yang digembar-gemborkan ke rakyat Indonesia adalah berantas korupsi, lawan korupsi sampai ke akar-akarnya. tentu semua rakyat gembira dan memilih bapak sebagai presiden, sebab setelah satu periode berlangsung ada sedikit kemajuan yang dialami oleh bapak, sehingga rakyat berharap penuh pada periode berikutnya. Tim sukses bapak pun bekerja keras untuk mempropagandakan program-program yang dilaksanakan demi kemajuan dan kesejahteraan  rakyat Indonesia. Ratusan milyar rupiah dihabiskan untuk menyihir rakyat Indonesia agar mereka memilih bapak sebagai presiden, Dan akhirnya bapak pun terpiliuh sebagai presiden Indonesia!
         Saya yakin niat bapak menjadi presiden boleh jadi tidak sekedar menjadikan negara kita menjadi unggul dan SDM berkualitas, tetapi juga rakyat mengalami sejahtera lahir dan batin. 
          Namun seiring waktu berlalu, mulai terlihat siapa sesungguhnya bapak itu! Rakyat pun sudah banyak yang kecewa dan sama sekali tidak menyangka kalau ternyata akhirnya seperti ini. Rakyat bukannya semakin sejahtera, terpenuhi sandang dan pangan, tetapi justru semakin terpuruk. Kemiskinan semakin jelas terlihat terutama warga yang tinggal di daerah, koruptor pun  semakin jahat dan merajalela  dimana-mana    terutama di instansi pemerintah. 
        Sungguh tragis nasib rakyat Indonesia. kekayaan alam yang berlimpah ruah, ternyata hanya bisa dinikmati oleh orang lain, bukan oleh rakyatnya sendiri! Entah sampai kapan penderitaan rakyat akan terus terpuruk, sementara para pejabat berpesta pora merebutkan  proyek-proyek yang mencapai ratusan milyaran. Mereka bukannya  pembela rakyat atau berjuang untuk kesejahteraan rakyat, tetapi sebaliknya merampok uang negara demi kepentingan memperkaya diri sendiri.
        Meski demikian, saya berdoa semoga bapak tetap diberi kekuatan untuk bisa memimpin negeri ini. Sebelum ajal tiba, bapak bisa berbuat yang terbaik demi bangsa dan negara Indonesia. Bahkan sebelum habis masa jabatan atau ketika bapak selesai menjadi presiden, ucapan inilah yang ingin saya dengar dari bapak :"Saudara sekalin sebangsa dan setanah air. Dua periode saya menjabat sebagai presiden, badan saya turun menjadi 45 Kg, karena selama itu saya memikirkan dan berbuat banyak untuk rakyat. Saya pun hanya memiliki satu rumah dinas saja, tidak memiliki rumah lagi, sebab sudah saya sumbangkan buat anak-anak yatim dan janda-janda miskin. Silahkan anda cek sendiri. Saya tidak memiliki deposito di bank manapun karena saya sudah menyumbangkan untuk kepentingan anak-anak yang ingin melanjutkan sekolah. Semua kekayaan yang saya miliki sudah saya wakafkan untuk rakyat miskin. Saya hanya ingin menikmati hidup ini dengan bersahaja dan bisa melihat rakyat Indonesia tidak ada yang kelaparan!"